Showing posts with label Informasi. Show all posts
Showing posts with label Informasi. Show all posts

Friday, November 9, 2018

HEBOH !!! Trend Mabok Mnggunakan Air Rebusan Pembalut, Baca Selengkapnya


Jakarta - Kasus remaja mabuk rebusan pembalut bikin heboh. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebut kasus ini bukan hal baru. 

"Sesuai data yang masuk di KPAI, kasus ini bukanlah kasus baru," kata komisioner KPAI bidang kesehatan dan napza, Sitti Hikmawatty, dalam keterangannya, Kamis (8/11/2018). 

Sitti mengungkap perilaku remaja yang mencari alternatif zat untuk nge-fly, tenang, ataupun gembira berawal dari coba-coba. Dari satu bahan, para remaja ini bisa meramu bahan lain demi bisa nge-fly

"Jadi kalau kita mengenal beberapa golongan psikotropika di luar narkoba, maka beberapa zat 'temuan' para remaja ini termasuk kelompok eksperimen psikotropika. Jumlahnya belum bisa diprediksikan karena ini berkaitan erat dengan jumlah anak serta kreativitas mereka 'meramu' bahan-bahan yang mudah di dapat di pasaran. Minum air rebusan pembalut juga didapat dari coba-coba, selain fenomena lain, seperti ngelem dan lain-lain," paparnya. 

Ada faktor lain pemicu para remaja mencoba-coba hal seperti ini. Sitti menuturkan dorongan ekonomi hingga hasil pencarian internet membuat remaja ini makin 'kreatif' meramu racikan baru. Sayangnya, kreativitas itu berujung bahaya. 

"Anak-anak ini banyak yang cerdas, karena dengan berbekal internet mereka bisa membuat beberapa varian baru, dari racikan coba-coba. Dan di sinilah tingkat resiko/bahaya menjadi meningkat karena mereka hanya concern pada satu zat tertentu dalam sebuah bahan, namun zat lainnya cenderung diabaikan sehingga reaksi sampingan yang terjadi bisa berakibat fatal," ungkap Sitti. 

"Karena tidak mampu membeli karena tidak punya biaya, sementara sudah kecanduan, maka mereka berupaya mencari tahu dengan bantuan informasi internet tadi, meracik sendiri ramuan-ramuan yang diharapkan akan memberikan hasil seperti kebutuhan mereka," sambungnya. 

KPAI berkoordinasi dengan banyak pihak untuk menangani fenomena ini. Meski demikian, Sitti mengingatkan keluarga memegang peran penting untuk mencegah fenomena heboh semacam 'mabuk rebusan pembalut' ini. 

"Deteksi dini atas perubahan perilaku anak-anak di sekitar kita, jika tidak ada alasan yang wajar, perlu menjadi bahan bagi para orang tua agar menjadi lebih waspada," tutup Sitti.

Sumber : detik.com

Thursday, November 8, 2018

Facts about hand holes and insects, apparently


A disgusting number of hand-held photos has been circulating in chat groups lately. The hole is like a honeycomb. In the photo mentioned, the hole happened because of an insect bite. Mentioned, the incident was mostly in Thailand and Myanmar.

"Attention for all members, informs all families and relatives, if you see insects like in a photo, never touch it," said the chain message. According to the sender of the message, the person who touches the insect will experience tremendous pain. Also, no cure or cure has yet been found.



The Director General of Disease Prevention and Control of the Ministry of Health (Kemenkes) Prof. M. Subuh immediately dismissed the truth of the photo. "That's a hoax," he said firmly.



According to him, insect bites are allergens which cause an itchy effect. The body naturally can do compensation in the form of reflex scratching or removing antihistamines (antigatal). That way, insect bites do not directly result in injuries as in the circulating news. Especially by just touching. "Until now, insects and injuries have not been found like that," he said.



Prof. Subuh's statement was also reinforced by the explanation of insect taxonomists from the Bogor Agricultural Institute (IPB) Dr. Ir Purnama Hidayat MSc. He explained, the insects in the photo entered the Belostomatidae family. "Insects do exist and can bite, but they are not dangerous," he said.



Hidayat said the insects in the photo were male sex. It was seen from his back carrying a female egg. "This type of male insect is more agile so it can better protect eggs from predatory attacks," he said. Many types of insects in Indonesia. Usually live in water and eat small animals.



Message hoaxes like that are not only spread in Indonesia. Jawa Pos found a similar message in English which spread to several countries. The difference is, in the message mentioned, hands are hollow because of insects that are found in India. Not Thailand and Myanmar as in chain messages that speak Indonesian.



From the search of this newspaper, it turns out that the photo of the hole in the hand was an engineering make-up with molding techniques. Tutorial to make the effect of the hand with many holes scattered on the internet. Including the video on YouTube. A make-up artist from the Netherlands named Cynthia Koning even sells tutorials to create these disgusting hand effects. He is priced at USD 4.95 in a specialty handicraft marketplace, Etsy.com.



Apparently, Cynthia made those disgusting hands from the ingredients we used to eat with a piece of bread, peanut butter. He claimed it took two hours to make the effect of the holey hand. Cynthia's work was then misused by irresponsible people. Spread and flavored sentences to scare people.



The hoax information maker seems to target people who suffer from trypophobia. That is fear when you see a hollow object. For example honeycomb, lotus flower seeds, to just a sponge hole. Trypophobia comes from Greek. Namely trypa which means hole and phobos which means fear.



People who experience such phobias will usually feel nauseous, itchy on their own, and acute goosebumps. "Ouch, I saw the disco goosebumps. Amused ... "replied a woman who received the message in a WhatsApp group.



Fact



The palms with honeycomb holes in the photo are not caused by insect bites. But the results of make-up engineering with molding techniques. There are no insects that can cause such injuries.

Source: jawapos.com

Wednesday, November 7, 2018

Hamili Anak Dibawah Umur, Pemuda Penjual Celana Jeans Keliling Diamuk Massa


PALEMBANG-- Heriadi (47), warga Jalan Rajawali II Kelurahan Talang Aman Kecamatan Kemuning, Palembang ini, babak belur dihajar massa, Senin (5/11).

Warga geram karena ulahnya yang telah menghamili anak dibawah umur sebut saja (SR) yang kini hamil 5 bulan.

Beruntung, secara bersamaan petugas unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), Polresta Palembang, pimpinan Kanit PPA, Ipda Henny Kritianingsih, memang sedang mencari Heriadi, lantaran pada, Kamis
(1/11), Heriadi sudah dilaporkan korbannya, SR.

Melihat Heriadi sedang diamuk warga di kawasan 9 Ilir, petugas Unit PPA Polresta Palembang, langsung mengamankannya.

Untuk mempertanggungjawab ulahnya, Heriadi pun langsung digiring ke Polresta Palembang.

Ketika ditemui di ruang PPA, Heriadi mengakui perbuatannya sudah melakukan hubungan intim layaknya suami istri dengan korba sebanyak 4 kali," Saya tidak paksa pak, ini kami lakukan suka sama suka. Namun
setiap usai gituan korban saya beri uang Rp 10 ribu, 5 ribu, 5 ribu, 5 ribu lagi saat terakhir lagi kami main," ungkapnya.

Lanjut Heriadi, setiap begituan ia dan SR langsung di rumah korban, saat kondisi rumah korban sedang sepi," Nah pas sepi itu lah saya ajak dia begitu pak. Saya pun baru tahu saya dilaporkan ke Polresta Palembang, karena mungkin saya tidak kerumah-rumah korban lagi dan korban tengah hamil 5 bulan, " ungkap penjual celana Jeans keliling ini.

Saat kejadian diamuk massa tadi, sambung Heriadi, dirinya hendak rumah korban. Namun lantaran massa yang banyak, ia harus babak belur dihajar massa," saya siap pak menikahi korban, ya mau gimana lagi," katanya.

Sementara, Kasat Reskrim Polresta Palembang Kompol Yon Edi Winara dan Waka Reskrim AKP Ginanjar melalui Kanit PPA Ipda Henny Kritianingsih, membenarkan adanya pelaku persetubuhan dibawah umur diamuk massa,
dan langsung diamanakan Unit PPA.

" Sudah kita amankan, kini pelaku masih diperiksa. Pelaku sebelumnya sudah dilaporkan korbannya di Polresta Palembang," ungkap Kanit PPA, sambil mengatakan, atas ulahnya pelaku akan dijerat UU perlindungan
Anak.

Sumber : SRIPOKU.COM

Ajak Gituan Gadis 13 Tahun di Pondokan, Pemuda Ini Langsung Di....


SELUMA - JO (25), pemuda Desa Talang Alai Kecamatan Semidang Alas Maras (SAM) diamankan petugas Kepolisian Polres Seluma karena diduga telah melakukan tindak pidana pencabulan anak di bawah umur terhadap korban seorang pelajar di Kecamatan SAM berinisial FI (13).
Informasi didapat, perbuatan bejat tersebut terjadi pada hari Minggu tanggal 21 Oktober 2018 sekira pukul 22.00 Wib Korban bersama temannya berinisial DA dan JO dan 3 teman JO yang korban tidak kenal namanya, pergi ke pondok yang letaknya di Desa Serian Bandung.
Setelah sampai pondok, korban dan DA diturunkan oleh JO di pondok dan setelah itu tiga orang teman JO menemani korban dan DA di pondok. Lalu JO pergi kembali membawa mobilnya. Tak lama, JO datang lagi dengan menggunakan motor.
Kemudian, korban dan DA pisah pondok. DA bersama tiga teman JO dan korban bersama JO berdua berada di pondok yang berdekatan. Setelah itu JO mengajak korban bersetubuh. Atas kejadian tersebut korban melaporkan kejadian ini kepada pihak berwajib.

“Untuk saat ini yang diduga pelaku sudah diamankan di Polsek Semidang Alas Maras dan sudah diperiksa serta dilakukan penahanan dan dititipkan ke RTP Polres Seluma untuk proses selanjutnya,” kata Kapolres Seluma AKBP I Nyoman Mertha Dana melalui Kabag Ops AKP Chusnul Qomar, Kamis (1/11/2018).
Diduga pelaku diamankan sesuai laporan Polisi Nomor : LP/265-B/X/2018/Bengkulu/Res Seluma/Sek SAM. dan dijerat pasal 76e Jo 82 ayat (1) UU RI No.35 tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak.

Sumber : https://riaurealita.com/mobile/detailberita/11190/ajak-gituan-gadis-13-tahun-di-pondokan-pemuda-ini-diamankan

Viral, Video Mesum Pelajar SMP dan SMA di Labuhanbatu Sumut.. Bikin Geram Netizen


LABUHANBATU,  Sebuah video mesum dua pelajar di Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara (Sumut), viral di media sosial Facebook, Kamis (8/11/2018). Video berdurasi 28 detik yang berlokasi di dalam rumah itu telah dilihat sedikitnya puluhan ribu netizen di Facebook.

Dari penelusuran, video diunggah langsung oleh pelaku sendiri berinisial SH (15) yang masih berstatus siswi kelas 3 Madrasah Tsanawiyah atau setingkat SMP melalui akun resminya. Sementara pelajar laki-laki yang bersamanya dalam video itu berinisial I (17), siswa SMA swasta di Kota Rantauprapat.

Video ini sudah dibagikan lima ribuan orang dan menjadi viral di media sosial. Banyak netizen yang menghujat aksi kedua pelaku dalam video. Apalagi, keduanya masih berstatus pelajar SMP dan SMA di Rantauprapat.

Terkait video mesum dua pelajar tersebut, Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Labuhanbatu Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Frido Situmorang yang dikonfirmasi melalui telepon seluler mengatakan, masih mengecek dan mendalami kasus tersebut. Polres Labuhanbatu juga akan memanggil pihak sekolah.

“Kami masih mengecek dan memeriksa soal video tersebut,” kata Frido.

Sumber : iNews.id

FAKTA !!! Guru Cabul & Ejekan Seksis Langgengkan Pelecehan Seksual di Sekolah


“Dulu saya masih belum mengerti dan takut untuk lapor yang kayak gini-gini sama orangtua,” kata Rena, bukan nama sebenarnya. Mahasiswi semester empat di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta ini bercerita tentang pengalaman pelecehan yang pernah dialaminya sewaktu SMP. Saat itu Rena masih berumur 13 tahun dan ia sama sekali tak tahu atas apa yang dilakukan guru biologi di sekolahnya termasuk sebagai pelecehan seksual.

“Bapak itu memang terkenal mesum. Suka ngomong jorok gitu. Jadi waktu ada anak-anak cewek yang digodain di depan kelas, yang lain nganggepnya bercanda, malah pada ikut ketawa,” kenangnya.

Ia juga salah satu yang ikut tertawa ketika sang guru melemparkan lelucon mesum terhadap siswi lain. Sampai akhirnya Rena jadi salah satu korban bercandaan. “Waktu itu ukuran payudara saya dikata-katain terlalu kecil sama dia. Padahal saya sedang presentasi di depan kelas,” ceritanya.


Tak berhenti di sana, sang guru yang berdiri di depan kelas mendatanginya, dan meraba-raba pundaknya untuk mencari tali kutang, sambil berkata, “Kalau umur segini masih wajar kecil, pakai (kutang) memang masih yang ukuran segini.”

Rena mengingat seisi kelas tertawa kencang. Ia malu sekali, berusaha ikut tersenyum. Semula ia ingin menganggap kata-kata si guru sebagai lelucon belaka. Namun, sejak saat itu, Rena sering jadi subjek perundungan oleh teman-teman sekelas yang mengolok-olok ukuran payudaranya. Ia membawa beban olok-olok itu sampai tamat SMP, sampai teman-temannya mulai melupakan "ejekan seksis" saat mereka lulus.

Tapi, peristiwa itu berdampak panjang: ejekan itu melukainya dan luka ini dibawanya hingga kini.

Ia punya perasaan minder pada ukuran payudaranya, yang memengaruhi kepercayaan dirinya. Ia selalu punya perasaan waswas dan malu berlebihan jika tampil di depan umum, “apalagi kalau di lingkungan baru atau yang aku masih belum kenal,” ungkap Rena.

Rena mengingat kisah ini ketika selesai membaca laporan kami, “Dosen Mesum Jadi Rahasia Umum”, terbit 4 Juli lalu. Ia salah satu orang yang mengontak saya untuk berbagi cerita lewat pesan langsung di Instagram. Awalnya, ia bertanya mengapa Tirto hanya mengangkat kasus pelecehan seksual di kampus? Menurutnya, sekolah menyimpan rahasia yang sama. Setidaknya ia adalah saksi sekaligus korban.

Pertanyaan serupa tak sekali-dua ditanyakan pada akun Instagram dan Twitter Tirto. Beberapa orang bahkan menceritakan langsung pengalamannya dilecehkan sewaktu di sekolah.

Kasus-kasus pelecehan seksual di kampus menarik diangkat karena jarang sekali direkam media arus utama. Informasinya sporadis, muncul saat kasus itu menjadi sorotan media, atau mencuat dari sejumlah testimoni lewat blog-blog pribadi, dengan kerahasiaan yang rapat. Padahal, ia bukan barang langka. Seperti temuan kami, dosen mesum ternyata jadi rahasia umum di banyak kampus. Temuan lain, nyaris tak ada kampus yang serius menangani permasalahan ini, termasuk kampus-kampus besar macam Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada. Belum ada aturan konkret yang mengatur sanksi kepada pelaku dan parahnya kampus-kampus juga buta cara menangani korban.

Menurut Widowati Tyas Utami dari Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat DIY, sebagai bagian dari sivitas akademika, mahasiswa merupakan populasi paling rentan dari pelbagai bentuk eksploitasi struktural di kampus.

Pemerintah memiliki undang-undang perlindungan anak yang terbatas untuk “seseorang yang belum berusia 18 tahun” dan undang-undang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga bagi pasangan suami-istri heteroseksual. Namun, tidak ada peraturan yang melindungi mahasiswa—rata-rata berusia 19-27 tahun—dari kekerasan fisik maupun psikologis di kampus.

Itu sebabnya penting menyediakan ruang bagi para mahasiswa dan sivitas akademika untuk mendiskusikan problema tersebut.

Belum Jadi Fokus Guru dan Sekolah
Betapapun begitu, redaksi Tirto tak menampik kasus pelecehan seksual yang masuk dalam ranah kekerasan seksual tak cuma di kampus, melainkan juga di sekolah. Dari riset media, setidaknya ada 12 kasus kekerasan seksual terhadap anak yang terekam sepanjang 2018. Ia tersebar di pelbagai tempat: Rokan Hulu (Riau), Jombang (Jawa Timur), Surabaya, Banjar (perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah), Subang (Jawa Barat), Semarang, Cilacap (Jawa Tengah), Mandailing Natal (Sumatera Utara), Cikarang, Depok, dan Bogor.

Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat setidaknya ada 59 kasus anak sebagai korban kekerasan seksual (pemerkosaan, pencabulan, sodomi/pedofilia, dan sebagainya) yang diterima berdasarkan rekaman terakhir mereka, yang dirangkum per Januari hingga Mei 2018.

Angkanya bisa lebih mengejutkan bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2017, kasus yang diadukan mencapai 188. Sepanjang 2011 hingga 2018, jumlah kasus terbanyak terjadi pada 2014, yang pengaduannya mencapai 656 kasus.

Dan, jumlah kasus kekerasan atau pelecehan seksual terhadap anak yang diadukan sangat mungkin melebihi jumlah korban sesungguhnya.

Kasus teranyar dari Depok, misalnya. Seorang guru Bahasa Inggris di SD Negeri 10 Tugu mengaku telah mencabuli 13 siswa sepanjang 2015 hingga 2018. Kasus ini terkuak ketika salah satu orangtua berani melaporkan pelecehan yang dialami anaknya ke kantor polisi.

“Enggak semua korban mau melaporkan,” kata Jasra Putra, komisioner KPAI Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak. “Bisa jadi karena anaknya tidak melaporkan pada orangtua, atau orangtuanya takut malu.”

Itu sebabnya, pemerintah menyediakan lebih banyak perkakas regulasi melindungi hak anak. Dibandingkan mahasiswa yang memang dianggap sudah berada di umur yang memiliki konsen, menurut Jasra, regulasi untuk melindungi anak dari kejahatan seksual memang lebih banyak dan lengkap. Ia mencontohkan Permendikbud Nomor 82 Tahun 2015.

“Di sana detail dijelaskan pencegahan agar tindakan kekerasan tidak terjadi, bagaimana menanggulanginya, sanksi, dan bagaimana kewajiban satuan pendidikan, misalnya dinas (pendidikan), sekolah, guru, dan kepala sekolah menangani kasus ini,” jelas Jasra.

Dalam Permendikbud itu, yang di maksud tindak kekerasan adalah perilaku yang dilakukan secara fisik, psikis, seksual, dalam jaringan (daring) atau melalui buku ajar yang mencerminkan tindakan agresif dan penyerangan di lingkungan satuan pendidikan. Tindakan ini mengakibatkan ketakutan, trauma, kerusakan barang, luka/cedera, cacat, dan atau kematian.

Salah satu poin kewajiban satuan pendidikan bahkan harus segera melaporkan tindak kekerasan yang dialami anak kepada orangtua dan atau wali. Sekolah diwajibkan membentuk tim pencegahan tindak kekerasan, termasuk “mencari tahu informasi awal apabila telah ada dugaan atau gejala akan terjadi tindak kekerasan”.

Namun, dari temuan KPAI, tak jarang sekolah yang menutup-nutupi kasus-kasus kekerasan. “Sering terjadi sekolah melindungi dan melokasi kasus-kasus seperti ini,” ungkap Jasra.

Mengapa?

“Kebanyakan karena ingin melindungi nama sekolahnya. Takut dapat citra buruk. Mind set-nya masih berpikir untuk menyelesaikan kekeluargaan, dan bahkan ada yang melindungi pelaku karena teman,” jawab Jasra. “Ini bisa jadi preseden buruk dunia pendidikan.”

Ia mencontohkan kasus yang terjadi di SDN 10 Tugu, Depok. Jasra berkata kasus ini terkuak karena orangtua geram pada sekolah karena guru yang menjadi pelaku masih mengajar, sebelum kasus ini sampai ke polisi. “(Kekerasan seksual) ini jelas kasus pidana. Anak dititipkan ke sekolah oleh orangtua karena ada kepercayaan di sana. Ini malah jadi bikin khawatir,” katanya.

Melawan kekerasan seksual di sekolah memang masih minim jadi fokus sekolah-sekolah. Menurut Jasra, kebanyakan guru masih lebih peduli pada masalah kesejahteraan profesi dan kompetensi ketimbang isu perlindungan murid dari tindak kekerasan, terutama kekerasan seksual.

Saat Jumat ketiga Oktober kemarin Jasra bertandang ke Solo, ia berhadapan dengan 40 guru terpilih yang dianggap punya visi maju terhadap dunia pendidikan. Namun, dalam Workshop Perlindungan Guru yang diadakan Direktorat Dikdas Kemendikbud, Jasra masih melihat kekerasan seksual belum jadi fokus utama para guru.

Padahal Permen PPPA Nomor 8 Tahun 2014 telah mengamanatkan agar sekolah membangun sistem berbasis hak anak melalui program Sekolah Ramah Anak. Namun, “dari sekitar 250 ribuan sekolah di Indonesia, baru 10 ribu yang mendeklarasikan diri dan akan menjalankan,” kata Jasra. Permen ini salah satu atribut regulasi yang berupaya melindungi anak dari kasus-kasus kekerasan, termasuk pelecehan seksual.

Sayangnya, program Sekolah Ramah Anak, pada praktiknya, belum pula dilaksanakan dengan baik. SDN 10 Tugu Depok adalah buktinya: berpredikat sekolah ramah anak tapi memelihara guru cabul.

Menurut Jasra, memang perlu ada sosialisasi lebih besar dan bergaung tentang kampanye anti-kekerasan pada anak. Sehingga para guru dan sekolah lebih benar-benar teredukasi atas perkara ini, dan dapat menciptakan lingkungan yang sehat dan aman buat anak-anak di sekolah.

“Kebanyakan guru bahkan enggak paham apa isi UU Perlindungan Anak,” kata Jasra. “Guru termasuk orang terdekat anak, sehingga jika terbukti menjadi pelaku, maka hukumannya ditambah lebih berat 1/3 dari vonis."

Sumber : tirto.id 

FAKTA TANGAN BOLONG dan Serangga TERNYATA.....


Sebuah foto tangan bolong-bolong menjijikkan banyak beredar di grup chatting belakangan ini. Lubang itu mirip sarang lebah. Dalam foto disebutkan, lubang itu terjadi karena luka gigitan seekor serangga. Disebutkan, kejadian itu banyak di Thailand dan Myanmar.
”Perhatian untuk seluruh anggota, infokan ke semua keluarga dan kerabat, bila melihat serangga seperti dalam foto, jangan sekali-kali menyetuhnya,” bunyi pesan berantai tersebut. Menurut si pengirim pesan, orang yang menyentuh serangga itu akan mengalami kesakitan yang luar biasa. Juga, belum ditemukan obat atau penawarnya.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Prof M. Subuh langsung menampik kebenaran foto itu. ”Itu hoax,” tegasnya.

Menurut dia, gigitan serangga bersifat alergen yang menimbulkan efek gatal. Tubuh secara alami dapat melakukan kompensasi berupa refleks menggaruk atau mengeluarkan antihistamin (antigatal). Dengan begitu, gigitan serangga tidak langsung mengakibatkan luka seperti yang ada dalam berita yang beredar. Apalagi dengan hanya menyentuh. ”Sampai saat ini belum ditemukan serangga dan luka seperti itu,” ujarnya.

Pernyataan Prof Subuh juga dikuatkan penjelasan ahli taksonomi serangga Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr Ir Purnama Hidayat MSc. Dia menjelaskan, serangga dalam foto itu masuk keluarga Belostomatidae. ”Serangga itu memang ada dan bisa menggigit, tapi tidak berbahaya,” tegasnya.

Hidayat menyebut serangga dalam foto itu berjenis kelamin jantan. Itu terlihat dari punggungnya yang membawa telur betina. ”Serangga jantan jenis ini lebih lincah sehingga bisa lebih melindungi telur dari serangan predator,” tutur dia. Serangga jenis itu banyak di Indonesia. Biasanya hidup di air dan memakan hewan kecil-kecil.

Pesan hoax seperti itu tidak hanya menyebar di Indonesia. Jawa Pos menemukan pesan serupa dalam bahasa Inggris yang tersebar ke beberapa negara. Bedanya, dalam pesan itu disebutkan, tangan berlubang karena serangga yang banyak ditemukan di India. Bukan Thailand dan Myanmar seperti dalam pesan berantai yang berbahasa Indonesia.

Dari penelusuran koran ini, ternyata foto lubang di tangan itu merupakan rekayasa make-up dengan teknik molding. Tutorial untuk membuat efek tangan berlubang itu banyak bertebaran di internet. Termasuk videonya di YouTube. Seorang make-up artist asal Belanda yang bernama Cynthia Koning bahkan menjual tutorial untuk menciptakan efek tangan menjijikkan tersebut. Dia membanderol USD 4,95 di marketplace khusus kerajinan tangan, Etsy.com.

Ternyata, Cynthia membuat tangan menjijikkan itu dari bahan yang biasa kita makan bersama sepotong roti, selai kacang. Dia mengaku butuh waktu dua jam untuk membuat efek tangan berlubang tersebut. Karya Cynthia itulah yang kemudian banyak disalahgunakan oleh orang yang tak bertanggung jawab. Disebarkan dan dibumbui kalimat untuk menakut-nakuti orang.

Pembuat informasi hoax itu rupanya menyasar orang-orang yang menderita trypophobia. Yakni ketakutan ketika melihat objek bolong-bolong. Misalnya sarang lebah, biji bunga teratai, hingga sekadar lubang spons. Trypophobia berasal dari bahasa Yunani. Yakni trypa yang berarti lubang dan phobos yang berarti rasa takut.

Orang-orang yang mengalami fobia seperti itu biasanya akan merasa mual, gatal dengan sendirinya, dan merinding akut. ”Aduh, merinding disko aku lihatnya. Geli…” balas seorang perempuan yang menerima pesan itu di sebuah grup WhatsApp.

Fakta

Telapak tangan dengan lubang-lubang seperti sarang lebah dalam foto itu bukan disebabkan gigitan serangga. Tapi hasil rekayasa make-up dengan teknik molding. Tidak ada serangga yang bisa menyebabkan luka seperti itu.

Sumber : jawapos.com

PELAJAR SMA Kelas 2 Ini, Cabuli Kakak Kelasnya di Sela-Sela Ekskul. Gara-gara Video...


Pelajar kelas II SMA di Sampang, Madura berinisial AA ditangkap polisi karena mencabuli kakak kelasnya.

Rabu (7/11/2018), pelaku ditangkap usai dilaporkan oleh orangtua korban ke polisi.

Berdasarkan laporkan, AA telah mencabuli kakak kelasnya, yang juga merupakan pacarnya, sebanyak empat kali.

Pelaku kerap merayu, memaksa, bahkan mengancam dan memukul korban jika menolak.

Pelaku juga pernah mencabuli korban di sela-sela kegiatan ekstrakurikuler sore hari.

Perbuatan itu akhirnya diketahui oleh orangtua korban, yang kemudian melapor ke polisi.

Kasubag Humas Polres Sampang Iptu Eko Puji Waluyo mengatakan, laporan tersebut ditemukan Polres Sampang pada Oktober 2018 lalu.

Korban pun telah dimintai keterangan dan divisum.

Sementara itu, pelaku, yang sempat kabur, telah ditangkap di rumah kerabatnya di kawasan Jagir, Wonokromo, Surabaya.

"Tersangka sudah kami tangkap kemarin dan sekarang dalam pemeriksaan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya," katanya, dikutip dari Surya.co.id.

Pelaku pun mengakui perbuatannya dan mengatakan nekat mencabuli korban karena pengaruh video porno yang ditontonnya.

Polisi juga menyita ponsel milik pelaku, yang ternyata dari situ ditemukan banyak video porno.

Akibat perbuatannya, pelaku terancam hukuman 15 tahun penjara.

Peristiwa serupa pernah terjadi sebelumnya di Palembang.

Seorang pelajar berinisial Y diduga telah menjadi korban pemerkosaan oleh JR (14), yang tak lain merupakan temannya.

Pihak keluarga Y pun melaporkan kejadian ini ke Polresta Palembang, Kamis (21/6/2018).

Diberitakan Sriwijaya Post, BS, pihak keluarga korban, mengatakan, peristiwa tersebut terjadi pada Minggu (10/6/2018) di sebuah rumah kosong di Kecamatan Ilir Barat I, Palembang.

Menurut penuturan BS, Y tak sadarkan diri usai diberi minuman oleh pelaku.

Artikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul "Kerap Cabuli Kakak Kelas Saat Ekskul di Sekolah, Pelajar SMA di Sampang Diringkus di Surabaya".

Video Mesum Karaoke Viral di Whatsapp, Polisi Turun Tangan


MADIUN - Aparat penyidik Reserse dan Kriminal Polres Madiun Kota menyelidiki kasus penyebaran video mesum di sebuah tempat karaoke yang viral di grup-grup WhatsApp.

Kasat Reskrim Polres Madiun Kota, AKP Logos Bintoro yang dikonfirmasi, Selasa (23/10/2018) membenarkan polisi sementara menyelidiki kasus penyebaran video mesum.

"Kami sementara masih menyelidikinya," kata Logos.

Untuk menyelidiki kasus itu, kata Logos, polisi telah memeriksa pemilik tempat karaoke dan wanita yang menjadi obyek mesum di ruangan karaoke. Sedangkan orang yang merekam video masih dalam pencarian.
Sementara itu, Ketua MUI Kota Madiun, KH Dr Muhammad Sutoyo, meminta Polres Madiun Kota mengusut kasus penyebaran video tindak asusila yang dilakukan di tempat karoke di Kota Madiun. Ia juga meminta Pemerintah Kota Madiun berani menindak tegas tempat hiburan yang melanggar aturan.

"Madiun nggak pernah sepi dari perbuatan itu. Ini dikarenakan kurang tegasnya pihak keamanan. Pelanggaran seperti itu tidak pernah ditindak sehingga akan berulang lagi," kata Sutoyo.

Dia meminta, apabila ditemukan pelanggaran Undang-undang IT, dan juga pornografi, pelaku hendaknya segera ditangkap dan dihukum sesuai dengan undang-undang.

"Ini sama saja penghinaan terhadap walikota dan DPRD," katanya.

Dia mengatakan, saat ini kondisi masyarakat di Kota Madiun sedang kondusif, khususnya umat Islam. Dia tidak ingin, masalah ini memicu kemarahan masyarakat Kota Madiun, khsusunya umat Islam.

"Ingat, umat Islam di Madiun sekarang sedang mesra-mesranya umat. Kalau ini tetap dibiarkan, jangan salahkan kalau nanti akan berhadapan dengan Islam. Kalau ada backing segera pergi," katanya.

Sutoyo mengatakan, ia tidak ingin musibah bencana yang terjadi di beberapa daerah, terjadi di Kota Madiun. Dia menuturkan, jangan sampai akibat perbuatan maksiat yang dilakukan satu atau dua orang, menyengsarakan banyak orang.

"Jangan sampai di Kota Madiun terjadi musibah seperti di Palu. Yang berbuat maksiat satu atau dua orang, yang kena musibah semuanya," katanya.

Ia menambahkan, perbuatan asusila yang diduga dilakukan sejumlah orang di tempat karaoke di Kota Madiun itu sama sekali tidak menghargai toleransi.
Oleh sebab itu, ia meminta kepolisian dan juga dinas terkait untuk melakukan tindakan tegas.

"Saya mohon, penegak hukum segera tangkap. Kan masih banyak karaoke yang benar. Hati-hati jangan menyinggung umat Islam. Mohon pihak walikota segera bertindak, jangan sampai Kota Madiun ini kena musibah. Seandainya ada backing silahkan minggir, silahkan ditangkap pelakunya. Bila ada regulasi yang menyatakan tempat itu melanggar segera ditutup,"imbuhnya.

Untuk diketahui, beberapa bulan terakhir telah beredar sebuh rekaman video mesum berdurasi 1 menit 52 detik. Video mesum yang diduga dilakukan di tempat karaoke di Kota Madiun itu direkam menggunakan ponsel.

Video mesum ini beredar di WhatsApp grup di masyarakat Kota Madiun dan sekitarnya , sejak beberapa bulan terakhir. Bahkan, awalnya video mesum ini sempat diduga dilakukan di tempat karaoke di Ponorogo.

Sejumlah anggota ormas di Ponorogo bahkan sempat mendatangi Kantor Satpol-PP Ponorogo. Mereka meminta petugas menindak tempat karoke yang diduga digunakan untuk berbuat mesum.

Sumber : SURYA.co.id

WASPADA PENYEBAR HOAK, POLISI Ancam Hukuman Penjuara 6 Tahun


Jakarta - Kepolisian Republik Indonesia bereaksi terhadap maraknya penyebaran isu atau berita bohong melalui media sosial. Berita hoax itu dinilai sering meresahkan masyarakat, tapi banyak yang menyebarluaskannya.
Kabar hoax yang belakangan meluas di Facebook itu contohnya rush money. Dalam berita itu, ada ajakan kepada umat Islam untuk menarik uang mereka di bank, jika Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok tak jadi tersangka dalam kasus dugaan penistaan agama.
"Bagi Anda yang suka mengirimkan kabar bohong (hoax), atau bahkan cuma sekadar iseng mendistribusikan (forward), harap berhati-hati. Ancamannya tidak main-main, bisa kena pidana penjara enam tahun dan denda Rp 1 miliar," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia Komisaris Besar Rikwanto melalui pesan pendek kepada wartawan, Minggu, 20 November 2016.
Dia menjelaskan, pelaku penyebar hoaxbisa terancam Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang-Undang ITE. Di dalam pasal itu disebutkan, "Setiap orang yang dengan sengaja dan atau tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan, ancamannya bisa terkena pidana maksimal enam tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar."
Menurut Rikwanto, mulai sekarang setiap orang harus berhati-hati dalam menyebarkan pesan
berantai lewat perangkat elektronik. Sekarang banyak pesan pendek (SMS), maupun e-mail hoax yang berseliweran. "Yang mem-forward, disadari atau tidak, juga bisa kena karena dianggap turut mendistribusikan kabar bohong."
Dia meminta masyarakat jika mendapat pesan berantai yang hoax, agar tak sembarang menyebarkannya. "Laporkan saja kepada polisi," ujarnya. Pesan hoax, kata Rikwanto, harus dilaporkan ke pihak berwajib karena sudah masuk delik hukum.
"Setelah laporan diproses oleh pihak kepolisian, baru kemudian polisi bisa melakukan penyidikan dengan bekerja sama bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika, dan segenap operator telekomunikasi," kata Rikwanto.

Sumber : TEMPO.CO

HEBOH !! Di Banjarsari Ciamis, Pelaku Kejahatan Nyebur ke Sungai saat Dikejar Polisi


Berita Ciamis,  Warga Dusun Pasiripis digegerkan dengan adanya informasi orang nyebur ke Sungai Ciputrahaji di Cikohkol, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Rabu pagi (07/11/2018).
Warga yang penasaran pun langsung berdatangan ke Jembatan Cikohkol atau yang sering disebut Jembatan Kaliayu, untuk memastikan kebenaran dari informasi tersebut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun HR Online di lapangan, orang yang nekad nyebur ke sungai itu tak lain adalah seorang penjahat yang tengah dalam pengejaran pihak kepolisian. Karena takut tertangkap, orang tersebut nekad lari dan loncat ke Sungai Ciputrahaji yang volume airnya sedang tinggi.
Ari, salah seorang warga setempat, menuturkan, sebelum kejadian, dua orang tak dikenal berhenti dan mampir ke warung kopi yang lokasinya dekat jembatan. Namun, tiba-tiba disusul polisi dan kedua orang itu pun lari. Satu orang nekad menceburkan diri ke sungai.
“Tadi itu ada dua orang yang mampir ke warung kopi, mereka menggunakan sepeda motor yang di parkir di pinggit jalan. Saya kira dia mampir lantaran kejebak hujan seperti saya. Namun, disaat dia sedang duduk, tiba-tiba datang polisi dan mereka pun berhamburan melarikan diri,” terangnya.
Saat itu Ari pun kaget dengan sikap kedua oran tersebut yang langsung berlarian. Ari mengaku dirinya baru tahu ketika ada polisi yang mengejarnya, satu orang diantaranya berhasil dilumpuhkan (ditembak) polisi.
“Nah, kalau yang satu lagi menceburkan diri ke sungai. Untuk yang ditembak, tadi juga sudah dibawa oleh polisi, sepertinya polisi itu tim Buser,” ujar Ari.
Pantauan HR di Jembatan Cikohkol, meski kondisi hujan, namun warga yang penasaran terus berdatangan ingin melihat langsung kondisi di lokasi kejadian. 

Sumber : (harapanrakyat.com)

Jokowi Sindir Soal Pemimpin Tegas tapi Suka Marah-marah


Jakarta - Calon presiden inkumben Joko Widodo atau Jokowi menyisipkan sindiran ketika memuji Ketua Umum Hanura Oesman Sapta Odang atau OSO dalam acara pembekalan calon legislatif Hanura di Hotel Discovery Ancol, Jakarta pada Rabu, 7 November 2018.
Jokowi memuji sosok OSO yang tegas, tapi tidak suka marah-marah. "Karena ada yang bilangnya tegas, tapi suka marah-marah," ujar Jokowi disambut gelak tawa dan tepuk seluruh tamu undangan dan kader Hanura di Hotel Discovery Ancol, Jakarta pada Rabu, 7 November 2018.
Menurut Jokowi, negara Indonesia butuh pemimpin yang mau mendengar rakyat sekaligus tegas. "Tapi tegas itu tidak sama dengan otoriter, jadi tolong dibedakan," ujar Jokowi.
Memasuki dua bulan masa kampanye, dua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang akan berlaga di pemilihan presiden 2019, mulai memanas, saling sindir antar kedua kubu pun tak urung terjadi.
Berbagai lembaga survei menunjukkan, karakter tegas lebih melekat kepada calon presiden nomor urut 02 yang berlatar belakang militer, Prabowo Subianto. Sementara Jokowi yang memiliki latar belakang masyarakat sipil lebih lekat dengan karakter merakyat.

Sumber : TEMPO.CO

Bikin Geram ! Bujang Lapuk Takut Nikah, tapi Cabuli......


Sidoarjo - Perbuatan M. Sholeh, bujang lapuk asal RT 28 RW 05 Desa Sambibulu, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo ini keterlaluan. Dia tega melakukan perbuatan cabul ke Mawar (bukan nama sebenarnya) hampir lima kali.





Perbuatan cabul itu kali pertama dilakukan oleh pria berusia 55 tahun itu, saat korban dipanggil dan diajak ke toilet yang tidak terpakai di daerah Waru atau sekolah korban menimbah ilmu.





Di bangunan bekas toilet itu, payudara siswi SD usia 10 tahun itu dipegang-pegang lalu celananya dipelorot hingga terlihat bugil. Di situ pelaku menggesek-gesekkan alat vitalnya ke vagina korban dalam posisi berdiri berhadapan.



"Aksi bejat itu pertama kali dilakukan pelaku saat Agustus 2018 lalu di toilet tidak terpakai di dekat sekolah korban," kata Kasatreskrim Polresta Sidoarjo, Kompol M Harris, Senin (5/11/2018).



Harris menambahkan, aksi bejat pelaku tak hanya sekali itu. Merasa ketagihan, pelaku kemudian mengulangi perbuatannya. Modusnya korban diiming-imingi dengan mainan handphone.



Setelah itu, pelaku yang belum menikah itu kembali melakukan perbuatan cabul dengan menggerayangi dan memegangi payudara dan alat vital korban. Korban juga juga selalu menolak saat pelaku memasukkan tangannya ke rok korban dan lari menghindar. "Pelaku juga bilang ke korban agar perbuatannya tidak diberitahukan ke orang lain," terang dia.



Aksi kurang ajar tukang pengantar galon air mineral itu terbongkar setelah orang tua korban mengetahui. Hampir kelima kali, tapi yang kelima ketahuan dan dilaporkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Sidoarjo.



"Kini tersangka kami lakukan penahanan dan akan menjerat korban dengan Pasal 82 UURI no. 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UURI no. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak," tegas Harris.



Sholeh mengakui perbuatan yang dilakukannya. Kenapa itu dilakukan? Karena pelaku tertarik dengan korban yang diakuinya cantik. Pelaku sering melihat saat mengantar galon air ke rumah korban.



Pelaku juga pernah berkirim surat kepada korban soal. Ditanya kenapa usia sudah berkepala lima belum juga menikah? Pelaku mengaku takut tidak bisa memberi nafkah wanita yang dinikahinya.



"Pelaku tak berani nikah takut tidak dapat menafkahi. Tapi perbuatannya malah ngawur dan melawan hukum," kata Kanit PPA Satreskrim Polresta Sidoarjo AKP Laila Rochmawati.

Sumber : (beritajatim.com)

Cabul Teman Anak Sendiri Hingga Hamil, Alasannya Karena....


Satuan Reskrim Polres Bengkulu Utara Menangkap pelaku pencabulan KS (35) warga Desa Rana Agung Kecamatan Argamakmur. Pelaku diketahui mencabuli teman anak kandungnya sendiri yaitu SN (16).
Korban yang masih pelajar di salah satu Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) baru mengaku telah mengalami tindak pencabulan tersebut setelah hamil.
Kapolres Bengkulu Utara AKBP Ariefaldi Warganegara melalui Kasat Reskrim Polres Bengkulu Utara, AKP M Jufri mengatakan telah menerima laporan tersebut langsung dari keluarga korban, Selasa (06/11/18).
“Korban sering berkunjung ke rumah pelaku sejak menginjak kelas satu SMP, sejak saat itulah niat buruk pelaku untuk menyetubuhi SN mulai timbul,” ungkapnya
Selain itu dalam melancarkan aksinya KS merayu korban agar mau berhubungan layaknya suami istri. Dengan tipu daya bahwa korban tidak akan hamil dan siap bertanggung jawab apabila hamil.
Atas perbuatannya pelaku dapat dikenakan pasal Pasal 81 Ayat (2) Sub Pasal 82 Ayat (1) Jo Pasal 76E UU RI No. 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas UU RI No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dengan ancaman minimal 5 tahun maksimal 15 tahun. [**]

Sumber : Bengkulutoday.com

Pengungsi Afghanistan Ditangkap, Diduga Mesum dengan Gadis di Kamar Kos


MAKASSAR, KOMPAS.com – Seorang pengungsi asal Afganistan yang tinggal sementara di Kota Makassar terpaksa diamankan aparat kepolisian setelah digerebek oleh warga Jl Andi Tonro 2, Stapak 7, Kelurahan Pa’baeng-baeng, Kecamatan Tamalate.
Ia diduga sedang berbuat mesum dengan seorang gadis di sebuah rumah kos, Selasa (6/11/2018) dini hari.
Pengungsi Afganistan yang diamankan diketahui bernama Daniel Shafai (20) yang tinggal di tempat penampungan di Wisma KPI Jl Andi Mallombassang, Kecamatan Tamalate. Ia mendatangi kamar kos milik Desi (26). 
Menurut informasi yang diperoleh, Daniel datang ke kamar kos tersebut setelah ditelepon oleh Desi. Setelah keduanya berada di dalam kamar, lampu dipadamkan.
Warga pun merasa curiga dan melakukan penggerebekan di kamar kos tersebut. Keduanya diduga melakukan perbuatan mesum. 

Aparat kepolisian dari Polsekta Tamalate yang mendapat laporan warga kemudian datang dan mengamankan Daniel dan Desi.
Keduanya menjalani pemeriksaan di Markas Polsekta Tamalate.
Kepala Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Makassar, Boedi Prayitno yang dikonfirmasi membenarkan kejadian tersebut.
Saat ini, pihaknya menunggu pelimpahan pengungsi Afganistan tersebut dari markas Polsekta Tamalate ke Rudenim Makassar yang terletak di Kabupaten Gowa.

Boedi mengungkapkan, pelanggaran yang dilakukan pengungsi yang tinggal sementara di Kota Makassar ini sudah banyak terjadi.
Selain melakukan perbuatan mesum dengan warga pribumi, mereka juga biasa berpesta miras dan terkadang melakukan tindak kriminal lainnya seperti perkelahian.
“Pengungsi yang tinggal sementara di Makassar ini terbilang agak bebas setelah adanya pengurangan pengawas di setiap tempat penampungan. Pengurangan petugas pengawas Imigrasi di tempat-tempat pengungsian sudah terjadi tiga bulan terakhir. Jadi mereka agak bebas, biasa mereka keluar pergi buat mesum, mabuk-mabukan dan sebulan lalu terjadi perkelahian berakhir penikaman terhadap sesama pengungsi,” bebernya.

Pengurangan petugas pengawas di tiap-tiap tempat penampungan, lanjut Boedi, setelah adanya pembicaraan antara pengelola tempat penampungan, Unicef, IOM di kantor Kemenkumham Sulsel.
“Dulunya ada 3 petugas yang berjaga di setiap tempat penampungan, namun dikurangi menjadi dua orang. Alasan pengurangan, karena pihak pengelola tempat penampungan tidak mau membayar biaya operasional seorang pegawai imigrasi lagi. Jadi selama 24 jam di tempat penampungan dijaga oleh petugas, namun dikurangi makanya agar ada kelonggaran waktu 8 jam bagi pengungsi,” tandasnya.
Boedi berharap, pihak Kemenkumham Sulsel kembali mempertegas aturan keimigrasian dan menyiagakan kembali 3 petugas di tiap-tiap tempat penampungan pengungsi di Kota Makassar.
Hal ini dapat menekan kebebasan pengungsi dan mengurangi tindakan kriminalitas yang terjadi di lingkungan pengungsi.

Sumber : 

L-300 Tabrakan dengan Dua Truk, Ini Identitas Korban yang Meninggal dan Luka


LHOKSEUMAWE – Tabrakan beruntun antara mobil penumpang jenis L-300dengan dua truk dilaporkan terjadi di jalan lintas Medan-Banda Aceh, tepatnya di Desa Dakuta, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, Rabu (7/11/2018) sekitar pukul 05.30 WIB. 
Ini data para korban yang meninggal dunia, yaitu Saifuddin Jafar (56) warga Abo Teubeng, Pidie. Saifuddin adalah sopir L-300 BL 1279 AN. 
Untuk korban yang luka,  kesemuanya adalah penumpang L-300.
Mereka,  M Ihsan (18) (luka lecet di wajah dan tangan), Hendri Bakri (32) (luka robek di tangan, kepala, dan kaki remuk), Zukri Mustakim (30) (luka lecet di sejumlah bagian tubuhnya), Samsul Bahri (35) ( luka lecet di beberapa bagian tubuhnya), Darmawan (49) (luka lecet), dan Hamdan Hamzah (42) (luka lecet di bagian wajah).
Kelima korban tersebut merupakan warga Pusong Baro, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe. 
Sedangkan dua korban lainnya, Suryadi (26) (luka lecet di wajah) dan Fatimah (48) asal Bare Blang, Kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara(luka lecet).
“Untuk kedua sopir truk yang terlibat tabrakan tidak mengalami luka,” ujar Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta Irawan, melalui Kapolsek Muara Batu Iptu Tarmizi.(*)

Sumber : SERAMBINEWS.COM

Bahayakah Make up Untuk Anak. Faktanya Mengejutkan...

Bolehkah Anak-Anak Menggunakan Makeup?

Banyaknya beauty vlogger pada 2018 mempengaruhi gaya hidup anak-anak dan remaja. Mereka memoles wajahnya dengan beragam jenis produk makeup yang beredar di pasaran, dari makeup berharga kurang dari 10 ribu hingga jutaan rupiah.
Umumnya produk tersebut bisa didapat dengan mudah melalui toko online. Bahkan, tak jarang para vlogger memberikan hadiah kosmetik kepada para penggemarnya tanpa pandang umur.

Amankah makeup untuk anak-anak?
Bahan berbahaya yang biasa terkandung dalam kosmetik adalah paraben. Dalam artikel berjudul “What You Should Know Before Using That Product Contains Methylparaben” yang ditulis oleh Debra Rose Wilson pada Healthline, paraben merupakan bahan kimia yang biasa digunakan untuk mencegah pertumbuhan jamur dan bakteri lain, sehingga produk yang mengandung zat ini akan lebih awet.

Wilson menjelaskan bahwa saat ini penggunaan paraben masih menjadi pro dan kontra, khususnya terkait ancaman kanker dan potensi gangguan reproduksi. Namun, ia menyampaikan bahwa paraben bisa menyebabkan alergi, apalagi jika digunakan di atas batas yang direkomendasikan.

Ketika menggunakan metil paraben, kematian sel akan lebih cepat. Hal ini menyebabkan kerusakan kulit yang tentunya sangat mungkin terjadi. Selain itu, Wilson juga membeberkan adanya laporan alergi terhadap metil paraben. Alergi tersebut berupa ruam yang bisa hilang dengan sendirinya.

Food & Drug Administration (FDA) Amerika Serikat juga mempunyai aturan tentang makeup yang kita kenakan seperti lipstik, blush onfoundation, bedak wajah, eyeshadow, eyeliner, dan maskara. Salah satunya adalah kandungan timbal yang biasanya terdapat pada lipstik.

Selain lipstik, timbal juga diketahui kerap terkandung pada eyeshadow dan perona wajah (blush on). Menurut aturan dari FDA, kandungan timbal pada lipstik tidak boleh lebih dari 10 ppm. Meski begitu, FDA juga pernah menemukan adanya kosmetik dengan kandungan timbal hingga 14 ppm.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa anak-anak rentan terhadap timbal karena mereka menyerap 4 sampai 5 kali lebih banyak dibandingkan orang dewasa. Timbal yang masuk ke tubuh akan didistribusikan ke otak, ginjal, hati, dan tulang, hingga terakumulasi dari waktu ke waktu.

Komposisi Makeup Sebabkan Gangguan Otak Anak

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengatakan timbal merupakan racun yang berpengaruh terhadap sistem tubuh dan berbahaya bagi anak-anak. Bahkan, timbal bisa menyebabkan gangguan kesehatan yang permanen, terutama bagi perkembangan otak dan sistem saraf.

Paparan timbal bisa membuat anak mengalami keterbelakangan mental dan gangguan perilaku, tentunya hal ini juga mengakibatkan menurunnya tingkat kecerdasan pada anak (IQ). Tak hanya itu, timbal juga bisa mengakibatkan koma, kejang, dan kematian.


Infografik tata rias bagi anak

Arsenik juga merupakan salah satu komposisi yang biasanya terdapat pada makeup. Komponen ini merupakan salah satu jenis logam berat, yang biasanya menjadi zat pewarna kosmetik. Pada makeup,arsenik hanya dibatasi kandungannya maksimal hingga 3 ppm.

Menurut WHO, paparan arsenik membawa dampak jangka panjang. Selain mengakibatkan penyakit kardiovaskular dan diabetes, arsenik bisa berdampak negatif pada perkembangan kognitif, kecerdasan, dan memori anak.

Sebuah studi berjudul “The Effects of Arsenic Exposure on Neurological and Cognitive Dysfunction in Human and Rodent Studies: A Review” (PDF) yang ditulis oleh Christina R. Tyler dan Andrea M. Allan menuliskan bahwa paparan arsenik dapat mengubah fungsi kognitif pada anak. Temuan itu berdasarkan studi terhadap kecerdasan anak menggunakan tes IQ.

“Para peneliti menyimpulkan bahwa paparan arsenik dikaitkan dengan penurunan IQ sebesar 0,4 pada anak yang terpapar. Mungkin ini merupakan penurunan kecil dalam IQ, namun perubahan tersebut bisa memiliki efek kumulatif di kemudian hari,” kata Tyler dan Allan.

Dilansir The Telegraph, sebuah penelitian yang dilakukan oleh The Environmental Working Group menemukan bahwa di Inggris, anak perempuan mulai menggunakan makeup sebelum berumur 11 tahun.

Meski tersedia produk kosmetik anak yang aman bagi setidaknya anak berusia 6 tahun, hampir semua produk kecantikan yang digunakan pada perempuan berusia 14 hingga 19 tahun mengandung zat berbahaya. 

Sekarang, cobalah periksa, apakah dalam produk perawatan tubuh dan kosmetik Anda tercantum paraben dan turunannya? 

Sumber : https://tirto.id/anak-anak-sebaiknya-tak-sembarangan-memakai-kosmetik-c9oZ
loading...